Kopi Robusta Simacan: Menaikkan Mutu, Bukan Membuka Lahan
Garda Lestariยทยท2 menit baca
Cara paling gampang menambah pendapatan dari kopi adalah memperluas lahan โ dan di kampung yang berbatasan dengan hutan, itu berarti merambah. Simacan memilih jalan yang lebih sulit: memperbaiki penanganan pasca panen.
Ada satu pertanyaan yang selalu muncul di kampung penghasil kopi ketika harga panen dirasa kurang: bagaimana caranya menambah pendapatan? Jawaban yang paling gampang โ dan paling merusak โ adalah menambah luas lahan. Di kampung yang berbatasan langsung dengan hutan seperti Simacan, menambah lahan berarti satu hal: merambah.
Kampung Aren Simacan mengambil jawaban yang lebih sulit. Bukan memperluas kebun, tapi memperbaiki mutu kopi yang sudah ada.
Leaf Coffee Indonesia memaparkan penanganan pasca panen kopi di Kampung Aren Simacan.
Nilai yang hilang setelah panen
Leaf Coffee Indonesia datang membawa materi pasca panen: apa yang terjadi pada biji kopi setelah dipetik, dan di titik mana mutunya biasanya jatuh. Pemetikan buah yang belum matang, penjemuran yang tidak merata, penyimpanan yang lembap โ semuanya menurunkan nilai jual tanpa mengurangi kerja petani sedikit pun. Kerjanya sama beratnya; harganya yang berbeda.
Materinya sampai ke tingkat standar mutu: klasifikasi kopi biji berdasarkan jumlah nilai cacat, mengikuti standar nasional. Angka-angka itu penting karena di situlah harga ditentukan. Selama petani tidak tahu ukuran yang dipakai pembeli untuk menilai, posisi tawarnya selalu di bawah.
Materi klasifikasi mutu kopi biji berdasarkan jumlah nilai cacat.
Aritmetika yang menyelamatkan hutan
Inti gagasannya sederhana dan bisa dihitung. Kalau mutu naik satu tingkat dan harga per kilogram ikut naik, pendapatan bertambah dari lahan yang luasnya tidak berubah. Tidak ada satu pohon hutan pun yang perlu ditebang untuk mencapainya. Sebaliknya, menambah pendapatan dengan cara memperluas lahan menuntut pembukaan lahan baru โ dan di lereng seperti ini, lahan baru selalu diambil dari tempat yang seharusnya tetap berhutan.
Jadi pelatihan pasca panen bukan cuma program peningkatan ekonomi. Ia sekaligus program perlindungan hutan, yang bekerja lewat kalkulator petani, bukan lewat larangan.
jenis kopi yang ditanam warga
Robustajenis kopi yang ditanam warga
titik perbaikan mutu, bukan perluasan lahan
Pasca panentitik perbaikan mutu, bukan perluasan lahan
tambahan lahan yang dibutuhkan
0 hektartambahan lahan yang dibutuhkan
Kopi robusta Simacan mulai punya wajah
Hasilnya sudah bisa dilihat dalam bentuk kemasan: kopi robusta Simacan dengan identitasnya sendiri, bukan lagi biji tanpa nama yang dijual curah ke pengepul. Produk itu dipajang di Tepi Hutan Cafรฉ dan diperlihatkan dalam pertemuan dengan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Banyuwangi, bersama Mbah Inem โ salah satu orang tua di kampung ini.
CDK Banyuwangi bersama Mbah Inem dan wajah produk kopi robusta Simacan.
Kehadiran generasi paling senior di foto itu bukan sekadar formalitas. Kopi di kampung ini ditanam jauh sebelum ada pelatihan mutu dan sebelum ada kemasan. Yang berubah bukan tanamannya, melainkan apa yang terjadi setelah dipanen โ dan siapa yang menikmati selisihnya.
โMenaikkan mutu satu tingkat lebih murah daripada membuka satu hektar lahan baru โ dan tidak ada hutan yang jadi tumbalnya.โ
Sebuah kafe berdinding anyaman bambu di batas kampung dan hutan, menjual kopi robusta dan gula aren dari kebun di sekitarnya sendiri โ dan lebih sering diisi warga daripada tamu.
Nira tidak lagi berhenti sebagai bahan mentah. Bagaimana Garda Lestari memperpanjang rantai nilai aren di dalam kampung โ lewat pengolahan, kunjungan, dan pertemuan malam di balai bambu.