Sebuah kafe berdinding anyaman bambu di batas kampung dan hutan, menjual kopi robusta dan gula aren dari kebun di sekitarnya sendiri — dan lebih sering diisi warga daripada tamu.
Cara paling gampang menambah pendapatan dari kopi adalah memperluas lahan — dan di kampung yang berbatasan dengan hutan, itu berarti merambah. Simacan memilih jalan yang lebih sulit: memperbaiki penanganan pasca panen.
Nira tidak lagi berhenti sebagai bahan mentah. Bagaimana Garda Lestari memperpanjang rantai nilai aren di dalam kampung — lewat pengolahan, kunjungan, dan pertemuan malam di balai bambu.
Setengah jam dari kota lewat jalan menanjak, pertolongan tidak datang cepat. Kelompok Srikandi Kampung Aren dilatih P3K, tandu, HT, dan mendirikan tenda darurat — dengan barangnya benar-benar dipegang.
Di mana lokasinya, apa yang ada di dalamnya, siapa yang mengelola, dan apa yang bisa dilakukan pengunjung. Profil lengkap Kampung Aren Simacan, kampung produktif berbasis aren di Licin, Banyuwangi.
Aren ditanam karena bisa disadap, kopi karena bisa dipanen. Seratus lima puluh bambu di mata air Kampung Aren Simacan ditanam untuk sesuatu yang tidak masuk pembukuan siapa pun: debit air tahun depan.
Setelah magrib, kampung aren di lereng Ijen berubah. Lampu-lampu kecil menyala di antara pohon, balai bambu terisi warga, dan tenda-tenda berdiri di halaman. Catatan tentang suasana malam di Kampung Aren Simacan, Banyuwangi.
Balai bambu itu dibangun untuk menyambut tamu, tapi sebagian besar waktunya dipakai untuk belajar. Tiga pertemuan — bersama CDK Banyuwangi, Pokdarwis Gombengsari, dan Osing Honey — menunjukkan ke arah mana kampung ini dibangun.