Sekolah Lapang Kampung Aren: KTH, Eduwisata, dan Lebah Klanceng
Garda Lestari··2 menit baca
Balai bambu itu dibangun untuk menyambut tamu, tapi sebagian besar waktunya dipakai untuk belajar. Tiga pertemuan — bersama CDK Banyuwangi, Pokdarwis Gombengsari, dan Osing Honey — menunjukkan ke arah mana kampung ini dibangun.
Sepanjang beberapa waktu terakhir, balai bambu Kampung Aren Simacan dipakai berulang kali untuk hal yang sama: mendatangkan orang yang lebih tahu, dan mendengarkan. Tiga pertemuan berikut menggambarkan ke arah mana kampung ini sedang dibangun — dan bahwa yang dibangun bukan cuma fasilitas, tapi kemampuan.
1. Kehutanan: melindungi hutan dengan status yang sah
Cabang Dinas Kehutanan (CDK) wilayah Banyuwangi datang untuk sosialisasi perlindungan hutan sekaligus menjelaskan prosedur pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH). Pak Mastain dari CDK Banyuwangi yang memaparkan.
Pak Mastain dari CDK Banyuwangi menjelaskan prosedur pembentukan KTH.
Materi seperti ini terdengar administratif, tapi justru di situ letak pentingnya. Kampung yang bekerja di sekitar kawasan hutan membutuhkan kejelasan status: apa yang boleh, apa yang tidak, dan lewat kelembagaan apa warga bisa mengelola secara sah. Tanpa itu, kerja bertahun-tahun bisa berdiri di atas dasar yang rapuh — dan penanaman yang sudah dilakukan tidak punya pelindung hukum.
Warga bersama tim CDK Banyuwangi selepas sosialisasi.
2. Eduwisata: belajar dari kampung yang sudah lebih dulu
Bapak Rahman, Ketua Pokdarwis Gombengsari, diundang memaparkan soal wisata kampung — khususnya eduwisata sebagai jalan branding, dan bagaimana itu dipakai untuk memperbaiki manajemen kampung. Gombengsari sendiri sudah menjadi contoh baik wisata kampung di Banyuwangi dengan identitas sebagai kampung kopi.
Bapak Rahman, Ketua Pokdarwis Gombengsari, memaparkan pengalaman mengelola wisata kampung.
Pilihan narasumbernya masuk akal: bukan konsultan dari luar daerah, tapi pengelola kampung tetangga yang sudah melewati persoalan yang sama. Gombengsari punya kopi; Simacan punya aren, kopi, dan kini kafe. Yang bisa dipindahkan bukan produknya, melainkan cara mengelola tamu, membagi peran, dan membangun nama.
Gombengsari dikenal sebagai kampung kopi — contoh terdekat yang bisa dipelajari.
3. Lebah klanceng: komoditas baru yang butuh hutan tetap berbunga
Pelatihan ketiga soal budidaya lebah klanceng, dibawakan Mas Budi — Owner Osing Honey dan Ketua Komunitas Peternak Lebah Madu Banyuwangi. Materinya mencakup keanekaragaman rasa madu, yang bergantung pada jenis bunga yang dihisap lebah, serta peran lebah dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Mas Budi (Osing Honey) membawakan pelatihan budidaya lebah klanceng.
Klanceng cocok untuk kampung seperti ini karena logikanya sejalan dengan sisa programnya. Lebah tidak bisa dipaksa produktif di lahan gundul: ia butuh bunga, dan bunga butuh tanaman yang beragam sepanjang tahun. Semakin utuh hutan dan kebun campur di sekitarnya, semakin baik madunya. Untuk pertama kalinya, keutuhan vegetasi jadi variabel yang langsung memengaruhi pendapatan — bukan cuma nilai yang dianjurkan.
Pola yang muncul dari tiga pertemuan
Kalau ketiganya diletakkan berdampingan, arahnya terbaca. Kehutanan mengurus dasar hukumnya. Pokdarwis mengurus cara mengelola dan menjual. Peternak lebah menambah satu komoditas yang justru menguntungkan kalau hutannya utuh.
Kelembagaan: KTH sebagai wadah sah untuk mengelola dan melindungi hutan.
Manajemen: eduwisata dan branding, dipelajari dari pengelola kampung wisata yang sudah berjalan.
Diversifikasi: madu klanceng, di samping gula aren dan kopi robusta.
Prinsip yang sama di ketiganya: pendapatan naik tanpa hutan berkurang.
Balai bambu itu memang dibangun untuk menyambut tamu. Tapi sebagian besar waktunya justru dipakai untuk ini: kampung yang sedang bersekolah pada siapa pun yang bersedia datang mengajar.
Sebuah kafe berdinding anyaman bambu di batas kampung dan hutan, menjual kopi robusta dan gula aren dari kebun di sekitarnya sendiri — dan lebih sering diisi warga daripada tamu.
Cara paling gampang menambah pendapatan dari kopi adalah memperluas lahan — dan di kampung yang berbatasan dengan hutan, itu berarti merambah. Simacan memilih jalan yang lebih sulit: memperbaiki penanganan pasca panen.