Setiap Tegukan, Sejuta Pohon: Tepi Hutan Café di Kampung Aren Simacan
Garda Lestari··3 menit baca
Sebuah kafe berdinding anyaman bambu di batas kampung dan hutan, menjual kopi robusta dan gula aren dari kebun di sekitarnya sendiri — dan lebih sering diisi warga daripada tamu.
Di ujung jalan kampung, tepat di batas antara permukiman dan hutan, berdiri sebuah rumah kayu tua beratap genting. Dari luar ia tampak seperti rumah warga mana pun di lereng Ijen — sampai kamu melihat papan yang digantung di muka pintu masuknya: “Setiap Tegukan, Sejuta Pohon”. Itu Tepi Hutan Café, dan namanya bukan kiasan. Bangunan ini benar-benar berada di tepi hutan.
Muka Tepi Hutan Café menjelang senja. Papan gantung itu memuat semboyannya: setiap tegukan, sejuta pohon.
Bambu dari lantai sampai langit-langit
Masuk ke dalam, yang pertama terasa adalah bahannya. Dinding dan langit-langitnya anyaman bambu — bukan panel bambu tempelan, tapi bilah-bilah yang benar-benar disusun dan dijalin, dengan pola yang berubah dari satu bidang ke bidang lain. Tiang kayu utuh dibiarkan apa adanya, lengkap dengan bekas kapak dan seratnya. Lampu-lampu gantung menyorot ke bawah, jadi cahayanya berkumpul di meja dan menyisakan sudut-sudut ruangan tetap gelap.
Perabotnya kursi-kursi rotan berlengan kayu dan meja bulat rendah — jenis kursi yang membuat orang duduk lama tanpa sadar. Satu sisi ruangan dibiarkan terbuka sebagai jendela besar menghadap kebun yang diberi lampu, sehingga daun-daun di luar tetap terlihat setelah gelap.
Bar dengan logo Tepi Hutan Café. Toples-toples di atasnya berisi biji kopi sangrai.
Yang dijual: kopi dan gula dari kampung ini sendiri
Di atas bar berjajar toples kaca berisi biji kopi sangrai, dan di sebelahnya kemasan kopi bertanda roasted. Di rak samping ada kantong-kantong gula aren semut dan botol-botol produk aren. Semuanya berasal dari kampung yang sama dengan bangunan tempat kamu duduk — kopi robusta dari kebun warga, gula dari nira yang disadap dan dimasak di sini.
Putri Asfarina Ifada, pengurus Garda Lestari, di etalase produk. Topi yang dipakainya anyaman daun — jenis yang juga dibuat pengunjung saat tur.
Pengurusnya memakai seragam lapangan Garda Lestari, dengan emblem di lengan bertuliskan “Tumbuh Bersama Bumi”. Detail kecil itu menjelaskan hubungan antara kafe dan kampungnya: Tepi Hutan bukan penyewa yang datang membuka usaha di desa, melainkan bagian dari kelembagaan yang mengelola kampung ini.
Ruang tamu kampung, bukan cuma kafe wisata
Yang paling membedakan Tepi Hutan dari kafe-kafe berkonsep alam di tempat lain adalah siapa yang duduk di dalamnya. Pada jam-jam biasa, kursi-kursi rotan itu diisi warga sendiri: laki-laki berpeci dan bersarung, yang datang bukan untuk berfoto tapi untuk mengobrol, ditemani cangkir kopi dan camilan di meja bulat.
Sore biasa di Tepi Hutan. Kafe ini lebih sering dipakai warga sendiri daripada tamu.
Karena itu, datang ke sini tidak terasa seperti masuk atraksi. Kamu masuk ke ruang yang sudah dipakai orang, dan kebetulan boleh ikut duduk.
Tempat berhenti bagi yang lewat
Kampung Aren juga jadi titik istirahat bagi rombongan yang melintasi jalur pegunungan. Rombongan trail dengan sepatu motocross dan jersey bertuliskan “Volcano — Ring of Raung” pernah berhenti di halaman, duduk di lincak bambu dengan air mineral dan camilan di atas meja potongan kayu, sebelum lanjut jalan.
Rombongan trail beristirahat di halaman. Jalur pegunungan Ijen melewati kampung ini.
Pola ini menjelaskan satu hal tentang kampung produktif: pendapatan tidak harus datang dari satu pintu. Ada yang membeli paket kunjungan, ada yang membeli gula, ada yang cuma berhenti minum kopi karena kebetulan lewat. Ketiganya masuk ke kas yang sama.
“Setiap Tegukan, Sejuta Pohon.”
Semboyan itu menyimpan logika ekonominya: kopi dan gula yang kamu beli berasal dari pohon yang harus tetap berdiri supaya bisa terus berproduksi. Membeli dari kampung ini berarti memberi nilai pada pohon yang hidup — bukan pada pohon yang ditebang.
Cara paling gampang menambah pendapatan dari kopi adalah memperluas lahan — dan di kampung yang berbatasan dengan hutan, itu berarti merambah. Simacan memilih jalan yang lebih sulit: memperbaiki penanganan pasca panen.
Nira tidak lagi berhenti sebagai bahan mentah. Bagaimana Garda Lestari memperpanjang rantai nilai aren di dalam kampung — lewat pengolahan, kunjungan, dan pertemuan malam di balai bambu.