150 Bambu di Mata Air: Menanam untuk Air, Bukan untuk Panen
Garda Lestari··2 menit baca
Aren ditanam karena bisa disadap, kopi karena bisa dipanen. Seratus lima puluh bambu di mata air Kampung Aren Simacan ditanam untuk sesuatu yang tidak masuk pembukuan siapa pun: debit air tahun depan.
Sebagian program penghijauan menanam apa saja, di mana saja, sebanyak-banyaknya. Yang dilakukan di Kampung Aren Simacan lebih spesifik: 150 bambu, ditanam di satu titik, yaitu mata air kampung.
Penanaman di sekitar mata air, di lereng basah yang penuh akar.
Kenapa bambu, dan kenapa di mata air
Bambu punya sifat yang tidak dimiliki banyak tanaman lain: rimpangnya menjalar dan membentuk jaringan akar yang padat dan saling mengikat, tepat di lapisan tanah teratas. Jaringan itu bekerja seperti spons dan jangkar sekaligus — memperlambat air hujan yang jatuh supaya meresap alih-alih langsung mengalir turun, sekaligus menahan tanah agar tidak longsor.
Di sekitar mata air, dua fungsi itu langsung terasa. Air yang meresap perlahan itulah yang keluar kembali sebagai mata air pada musim kemarau. Kalau tanah di atasnya terbuka, hujan hanya lewat: banjir kecil di musim hujan, kering di musim panas.
Kegiatan penanaman dikerjakan bersama warga, bukan tim dari luar.
Menanam sesuatu yang tidak untuk dipanen
Yang menarik dari pilihan ini adalah motifnya. Aren ditanam karena bisa disadap. Kopi ditanam karena bisa dipanen. Bambu di mata air ditanam untuk sesuatu yang tidak muncul di pembukuan siapa pun: debit air yang tetap keluar tahun depan, dan tahun-tahun sesudahnya.
Bambu memang bisa dimanfaatkan — dan di kampung ini bambu terpakai di mana-mana: dinding balai, langit-langit kafe, lincak, pagar, lampu gantung. Tapi 150 batang di mata air itu punya tugas lain. Ia berdiri di sana supaya airnya ada.
bambu ditanam di area mata air
150bambu ditanam di area mata air
sasaran: sumber air kampung
1 titiksasaran: sumber air kampung
pelaksana penanaman
Bersama wargapelaksana penanaman
Ini juga bagian dari pengertian agroforestri yang sering hilang saat kata itu dipakai sebagai jargon. Agroforestri bukan cuma menanam pohon yang menghasilkan uang di antara tanaman lain. Ia juga soal memutuskan bagian mana dari lahan yang tidak dijadikan produksi — dan menjaganya.
“Kalau mata airnya mati, tidak ada gula aren dan tidak ada kopi yang bisa menggantikannya.”
Sebuah kafe berdinding anyaman bambu di batas kampung dan hutan, menjual kopi robusta dan gula aren dari kebun di sekitarnya sendiri — dan lebih sering diisi warga daripada tamu.
Cara paling gampang menambah pendapatan dari kopi adalah memperluas lahan — dan di kampung yang berbatasan dengan hutan, itu berarti merambah. Simacan memilih jalan yang lebih sulit: memperbaiki penanganan pasca panen.