Malam di Kampung Aren Simacan: Ketika Kebun Aren Berganti Suara
Garda Lestariยทยท3 menit baca
Setelah magrib, kampung aren di lereng Ijen berubah. Lampu-lampu kecil menyala di antara pohon, balai bambu terisi warga, dan tenda-tenda berdiri di halaman. Catatan tentang suasana malam di Kampung Aren Simacan, Banyuwangi.
Matahari tenggelam lebih cepat di lereng Ijen. Pukul lima sore langit di atas Kampung Aren Simacan sudah berwarna kelabu kebiruan, dan kabut tipis mulai turun menyusuri pucuk-pucuk pohon di belakang kampung. Di titik inilah kampung berganti wajah: kebun aren yang sepanjang hari berisik oleh suara parang, tabung nira, dan obrolan penyadap, perlahan menyerahkan panggungnya kepada suara jangkrik dan gemerisik daun.
Papan nama di depan balai, difoto saat gerimis. Garis-garis terang di udara itu air hujan yang tertangkap lampu.
Lampu-lampu kecil di antara pohon
Yang pertama menyala biasanya deretan lampu kecil yang digantung dari atap balai, membentang melintasi halaman, lalu diikat ke pohon-pohon di seberang. Cahayanya hangat dan tidak terang-terang โ cukup untuk melihat jalan, tidak cukup untuk menghapus langit. Karena itu kampung tetap terasa gelap dalam arti yang menyenangkan: bintang masih kelihatan, dan batas antara halaman dan hutan di belakangnya tetap kabur.
Di ketinggian 800โ900 meter di atas permukaan laut, udara malam di sini turun jauh lebih dingin daripada Banyuwangi kota. Angin datang dari arah pegunungan, membawa bau tanah lembap dan asap tipis dari dapur pengolahan. Kalau kebetulan sedang ada yang memasak nira, aroma gula aren yang mengental โ manis, agak berkaramel โ akan mengambang di udara sampai jauh.
Balai bambu yang tidak pernah benar-benar sepi
Pusat kegiatan malam ada di balai: bangunan kayu terbuka dengan rangka atap yang dibiarkan telanjang, genting tanah yang terlihat dari bawah, dan dinding gedek bambu di sisi belakang. Lampu-lampu gantung berbahan anyaman rotan menggantung dari balok, menjatuhkan pola cahaya berlubang-lubang ke lantai. Di dinding gedek itu, logo Kampung Aren Simacan menyala pelan dari belakang.
Balai sebelum acara dimulai. Lincak bambu disusun berjajar seperti ruang kelas kecil.
Perabotnya lincak bambu โ bangku panjang tanpa sandaran, yang bisa dipakai untuk duduk bersila, menaruh gelas, atau tidur-tiduran kalau acaranya panjang. Malam-malam tertentu lincak itu disusun berjajar menghadap satu arah, dan balai berubah menjadi ruang pertemuan. Proyektor dipasang di atas tripod, satu speaker didorong ke sudut, dan warga datang membawa sarung dan kopiah.
Pertemuan warga di balai. Piring-piring kecil dan teko di meja bambu adalah bagian tetap dari acara apa pun di sini.
Yang menarik dari malam di Kampung Aren bukan hiburannya โ memang tidak ada panggung, tidak ada musik keras. Yang menarik justru karena ini bukan pertunjukan. Kalau kamu datang dan kebetulan sedang ada rapat warga, kamu akan duduk di lincak yang sama, mendapat piring yang sama, dan mendengar hal-hal yang memang sedang mereka bicarakan: bibit, harga gula, jadwal tamu.
Menginap: tenda di halaman
Di halaman depan balai ada area datar berumput yang dipakai sebagai camping ground. Tenda-tenda kubah didirikan berjajar beberapa meter dari papan nama, cukup dekat untuk mendengar orang mengobrol di balai, cukup jauh untuk tidur tenang. Sepeda motor diparkir di sisinya. Tidak ada pagar antara area tenda dan kebun.
Malam yang lebih larut, hujan turun tipis. Spanduk di balai bertuliskan #TumbuhBersamaBumi.
Menginap mengubah urutan pengalaman. Tamu harian datang pagi, melihat nira disadap, ikut mencetak gula, lalu pulang. Yang menginap mendapat bagian yang tidak masuk brosur: hawa dingin yang menempel di tenda menjelang subuh, suara burung pertama, kabut yang masih menggantung rendah di kebun sebelum matahari membubarkannya, dan penyadap yang sudah berangkat lebih dulu sebelum tamu bangun.
โKalau mau tahu kampung ini sebenarnya bagaimana, datang sore dan menginap. Siang itu jadwal; malam itu kampungnya.โ
Kalau kamu berencana datang malam
Bawa jaket atau flanel. Suhu di 800โ900 mdpl turun cukup tajam setelah magrib, jauh berbeda dari kota Banyuwangi.
Bawa lampu kepala atau senter kecil. Penerangan sengaja dibuat redup, dan jalan setapak di kebun tidak berlampu.
Agustus masih bisa gerimis. Sandal atau sepatu yang tidak licin lebih berguna daripada yang bagus.
Sinyal seluler tidak selalu penuh. Beri tahu keluarga sebelum berangkat, dan simpan lokasi secara offline.
Untuk menginap dan kegiatan malam, kabari admin lewat WhatsApp lebih dulu โ jumlah tenda dan pendamping perlu disiapkan.
Kampung Aren Simacan bukan destinasi yang menjual pemandangan besar. Yang ditawarkan lebih kecil dan lebih dekat: satu kampung yang bekerja, dilihat pada jam ketika kampung itu sedang menjadi dirinya sendiri.
Sebuah kafe berdinding anyaman bambu di batas kampung dan hutan, menjual kopi robusta dan gula aren dari kebun di sekitarnya sendiri โ dan lebih sering diisi warga daripada tamu.
Cara paling gampang menambah pendapatan dari kopi adalah memperluas lahan โ dan di kampung yang berbatasan dengan hutan, itu berarti merambah. Simacan memilih jalan yang lebih sulit: memperbaiki penanganan pasca panen.